Semua Halaman ku guys!!

Rabu, 18 September 2019

Semua akan mudah kalo bisa melakukan


Ada aja cara manusia agar mereka terlihat lebih unggul daripada lainnya. Tak ada cara yang salah untuk menunjukkan bahwa mereka unggul. Namun membesar-besarkan diri mereka dihadapan yang lain dan merendahkannya adalah cara yang tidak baik. 

Aku memang bukanlah orang yang unggul. Banyak dari mereka yang lebih unggul dari aku masih saja iri dengan keunggulanku. Apa yang salah dari aku? Aku selalu dijelek-jelekan. Selalu dihina dibelakang. Sehingga seolah-olah mereka menginginkan diriku ini tak ada. Jika kehadiranku mengganggu posisi mereka, kenapa mereka tak langsung saja menghabisi aku? Apa karena mereka takut dijauhi karena namanya ternodai? Atau karena masih ingat dosa? 

Menjadi nomor satu, menjadi panutan, dan unggul dari yang lain merupakan hal yang pastinya diinginkan manusia. Namun apakah semua itu akan terwujud seperti apa yang kita bayangkan? Realita terkadang tak seindah ekspektasi ya. 

"Dunia tak sepenuhnya tentang dirimu. Jadi jangan seenaknya saja seluruh keinginanmu terpenuhi. Lihatlah keatas. Diatas langit masih ada langit."

Masing-masing dari kita diciptakan mempunyai peran masing-masing di dunia ini. Sama halnya film, terdapat tokoh protagonis, antagonis, tritagonis, dan lain sebagainya. Namun peran bukan selamanya peran. Peran memang adalah takdir yang mutlak.

Di sekolah memang ada beberapa dari seluruh siswa yang memang benar-benar rajin dan pandai. Dan ada pula siswa yang sebenarnya tak bisa apa-apa namun memiliki hasil akhir yang tinggi. Dan adapula yang benar-benar bodoh dan tak bisa apa-apa. Kita pastinya tidak mau jika ada di posisi siswa yang bodoh dan tak bisa apa-apa bukan?

Maka dari itu kita perlu bersaing. Memang secara mutlak yang ada dipikiran kita "pasti tidak mungkin jika aku yang dibawah menjadi yang nomor satu." Namun jangan berpikir seperti itu. Apa salahnya mencoba? Yang diatas gak akan selamanya diatas kok. Yang sudah diatas pun pasti takut jika dirinya jatuh dan tersingkir dari posisi yang terbaik. Sedangkan yang dibawah tak pernah takut untuk naik. Naik merupakan hal yang menandakan ada perkembangan.

"Karena berkembang menjadi baik itu lebih mudah daripada harus menetap menjadi baik"

Kembali pada peran masing-masing. Peran bukan selamanya peran. Kita juga bisa belajar. Kita semestinya ingin bisa apa yang orang lain bisa kan. Karena semua akan mudah kalo bisa melakukan. Mesti tak semudah membalikkan telapak tangan. Namun kita tetap terdapat berbagai kekurangan. Membutuhkan orang lain adalah cara kita menghadapi kesulitan yang tak dapat kita selesaikan sendiri. Orang pandai tak selamanya pandai, karena orang pandai juga memiliki kekurangan untuk dikatain goblok sama temennya yang lebih pinter akan suatu hal dari dia.

Minggu, 01 September 2019

Soreku


Sore tadi aku baru saja pergi jalan-jalan dan sedang perjalanan pulang. Di sebuah warung aku memesan minuman karena haus. Aku duduk di depan warung, menikmati es teh manis yang segar dan memandangi indahnya matahari terbenam. Namun pemandangan indah dan suasana yang membuat hati merasa tenang rusak karena mendengar suara dari perkumpulan anak-anak kecil "welcome to mobile legends." 

Rasa-rasanya semua serba menyenangkan ya di zaman yang sekarang ini. Aku iri dengan mereka. Dulu aku hanya tau keluar rumah untuk bermain, berlari-larian, sepedaan dengan teman-teman. Menunggu saatnya dipanggil mama untuk pulang. Melanjutkan bermain saat sudah mandi, lalu dimarahin mama karena sudah mandi malah kotor-kotoran lagi. Dan pengen seperti kakak yang diperbolehkan keluar dimalam hari.

Tapi mungkin bagiku yang lahir di awal 2000 an lebih seru zaman yang dulu. Aku tahu rasanya kebersamaan, rasanya dimarahi orang tua, dan mendengar mitos aneh-aneh orang tua. Sekarang? Mana ada mitos kalo main game sampe maghrib nanti gamenya dicolong sama wewe. 

Banyak temanku yang menemukan anak-anak kecil pacaran di sosial media mereka. Dengan caption yang bagi anak-anak kecil itu sangat sangat romantis. Padahal aku yang sudah menginjak di usia 17 tahun mau muntah rasanya melihat mereka selfie, berpelukan, bahkan ada yang menangis karena diputusin.

Dulu pada saat aku masih SD, aku juga pernah menyukai seseorang. Dan bahkan hendak menembaknya agar berpacaran denganku. Namun dulu tak ada yang namanya Privacy Status. Dulu tak ada anak seumuranku yang mengungkapkan dan menceritakan hari-harinya dengan nge-hide orang tua mereka. Yang ada orang tua langsung mendengar aduan dari teman. So aku ga jadi nembak karena udah dapet jeweran yang sangat mengesankan.

Aku tak mengerti lagi. Zaman sudah berubah. Yang dulu sangatlah berbeda dengan yang sekarang. Sudahlah.. Zaman dulu itu terlalu desember untuk sekarang yang januari. Tidak ada tahun baru lagi bagi Tuhan yang lama. Kini yang ada hanyalah hari-hari yang kian dingin dan beku.